• Maret 2, 2024

BNN Musnahkan Ladang Ganja Seluas 4 Hektare di Aceh

Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) memusnahkan ladang ganja di Provinsi Aceh. Ada dua wilayah yang disasar dengan luas lahan 4 hektare.

Kepala Biro Humas dan Protokol BNN RI Sulistyo Pudjo Hartono menerangkan, lahan ganja ditemukan setelah BNN mengungkap penyeludupan ganja jaringan Aceh-Lampung.

Dalam persoalan ini, satu orang berinisial RZ diamankan. Sebanyak 12 karung ganja kering seberat 200 kilogram termasuk disita sebagai barang bukti.

Pengungkapan pada di wilayah Aceh Besar pada Sabtu 2 Maret 2024,” kata dia didalam info tertulis, Kamis (7/3/2024).

Pudjo menerangkan, persoalan ini sesudah itu dikembangkan. BNN RI sesudah itu bersinergi dengan Badan Riset dan Inovasi (BRIN) dan juga Badan Informasi Geospasial (BIG) jalankan monitoring lahan tanaman ganja di wilayah Aceh Besar. Hasilnya, ditemukan tiga titik ladang ganja di dua wilayah lahan ganja.

“Lokasi pertama letaknya pada parlay ketinggian 129 MDPL dan 109 MDPL di Desa Lamlung, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, dengan keseluruhan lahan seluas 2 hektare. Terdapat 5.000 pohon ganja dengan ketinggian berkisar pada 50 cm hingga 200 cm dengan jarak tanam 50 cm,” ujar dia.

“Lokasi ke-2 lahan ganja dengan luas 2 hektare ditemukan pada ketinggian 600 MDPL di di Desa Meurah, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Terdapat 15.000 pohon ganja siap panen dengan ketinggian berkisar pada 100 cm hingga 200 cm dengan jarak tanam 10 cm hingga 90 cm,” dia menambahkan.

Pudjo menjelaskan berdasarkan Pasal 92 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 berkenaan Narkotika, maka ladang ganja itupun dimusnahkan pada Rabu, 6 Maret 2024. Pemusnahan lahan ganja dipimpin Direktur Narkotika Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI, Brigjen Pol Ruddi Setiawan.

“170 personel tim gabungan dilibatkan terdiri dari BNN Pusat, BNN Provinsi Aceh, TNI, Polri, Satpol PP, Kejaksaan Tinggi Aceh, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Dinas Pertanian dan juga Dinas Kehutanan,” tandas dia.

Ladang Ganja Seluas Dua Hektare Ditemukan di Sumsel, Polisi Buru Pelaku

Sementara itu, Penyidik Polres Empat Lawang, Sumatera Selatan memburu seorang tersangka berinisial BUD, sebagai pemilik dua hektare ladang ganja siap panen di daerah itu.

Kapolres Empat Lawang, AKBP Dody Surya Putra menjelaskan bahwa temuan dua hektare ladang ganja itu berdasarkan laporan dari masyarakat sekitar.

Mendapat informasi itu, Dody langsung memimpin timnya jalankan pengungkapan pada Selasa 30 Januari 2024. Tak enteng bagi polisi menuju wilayah ladang ganja siap panen tersebut. Dody mengaku, ia dan jajarannya berlangsung kaki sepanjang 9 jam untuk hingga ke wilayah ladang ganja.

Kami langsung jalankan penggerebekan sebuah pondok di sedang ladang berikut dan seorang pelaku ASM (40 tahun) warga desa Batu Jungul, Kecamatan Muara Pinang, Empat Lawang berhasil ditangkap, selagi BUD dinyatakan DPO,” kata Dody dilansir dari Antara, Sabtu (3/2/2024).

Saat tiba di lokasi, polisi menemukan 2.000 batang tanaman ganja siap panen dari lahan seluas dua hektare. Selain itu, polisi termasuk menggeledah sebuah pondok yang berjarak kira-kira 1 km dari lahan ganja.

Penemuan Ganja Siap Kering
Dari wilayah tersebut, tim lagi menemukan ganja kering siap menggunakan sebanyak 100 kg dan paket sabu beserta alat isap (bong). Di lokasi, polisi termasuk meringkus ASM (40), warga Desa Batu Jungul, Kecamatan Muara Pinang, Empat Lawang.

“Setelah kami cabuti semua tanaman tersebut, seterusnya dilaksanakan pemusnahan dengan langkah dibakar sebanyak 1.970 batang ganja. Sebanyak 30 batang ganja kami sita untuk di periksa di Labfor untuk di jadikan barang bukti. Sementara, 96 kg ganja kering berikut dimusnahkan ditempat dengan langkah di bakar dan sebanyak 4 kg disita untuk di periksa di Labfor dan di jadikan barang bukti sistem penyidikan,” tutur Dody.

Ia meyakinkan, dari pengungkapan tersebut, Polres Empat Lawang sudah berhasil menyelamatkan jiwa manusia kurang lebih 2,4 juta jiwa dari potensi penyalahgunaan bahaya narkoba.

Sementara tersangka dijerat pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 111 ayat (2) dan atau Pasal 112 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009, berkenaan narkotika, dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah),” tegasnya.